Thursday, April 5, 2007

2 JAM SETELAH KERETA LEWAT

:

2 jam setelah kereta lewat. lewat lagi kereta. lewat lagi terus begitu tak pernah berhenti. kecuali kalau ada rel yang bengkok atau putus atau jembatan rubuh. tapi memang tak pernah berhenti begitu sudah berlangsung puluhan tahun lamanya sejak indonesia merdeka. Thanks to belanda, karenanya kita jadi bisa jalan-jalan naik kereta. Walau menjajah tapi ada manfaatnya juga. Terimakasih Menir! Mefrou!

2 jam setelah kereta lewat. stasiun sepi, ramai suara cuma bisik-bisik langkah kaki, dengusan prang tidur, tawar menawar cinderamata, plentingan buka botol minuman, bocah jualan koran, porter yang menunggu giliran sambil ngumpul sama teman-teman. 2 jam setelah kereta lewat. lewat lagi kereta. riuh stasiun mulai meniup mata dan telinga. bunyinya ada yang garing dan bermacam rasa pula. sedih, karena harus pergi meninggalkan, senang karena telah datang, diam karena tak tau musti bicara apa, cuma beberapa tetes airmata dan saputangan bertuliskan nama dan nama, inisialnya saja.

2 jam setelah kereta lewat. aku enggan beranjak dari kursi panjang. masih nikmati suasana manusiawi begini. masih belum mau masuk ke realitas yang membuatku hilang dari permukaan bumi dan pergi melanglang entah kemana, keruang tak jelas yang bernama aktualisasi, atau sekedar drama emosi yang dikemas dalam bentuk 'pertunjukan terkini' dan tak mau berhenti, seperti kereta lewat tiap dua jam dan 2 jam selanjutnya tanpa berhenti.

"Permisi dik, ada korek?!" tanya seorang kakek berikat kepala badui batik memakai kemeja lurik kancing copot satu, berkain singkap merah gelap ungu, memanggul tas rajutan asli rotan bambu. Garis wajahnya pekat dan dalam, tapi senyumnya penuh makna bercampur dengan sorot mata tajam berkharisma (Honda kali?!) - Hush! -
"Korek apa Kek?" tanyaku sambil membetulkan posisi duduk dan memasang posisi 4-4-2 damai
"Korek api bermerk 'Tanstiker tansikfabrikspaten'" dia menyebutkannya dengan loncer, aku tak mengenali merek itu. Aku cuma kenal Cricket, Tokai, dan 2000, serta cap tiga duren yang merupakan plesetan dari 'tiga dara' film jaman dulu yang menang piala citra.
"Adanya cap tiga duren Kek." kataku
"Boleh lah." Kata kakek yang segera siap menaruh sebatang rokok tanpa filter di mulutnya.

- Kadang 2 jam setelah kereta lewat. terjadi dialog standar yang biasa. emosinya datar-datar saja. tak bisa diharapkan untuk jadi luar biasa. Menurut kita... tapi terkadang dari hal dan emosi yang datar-datar saja bisa berubah menjadi tak biasa. misal:

1. Kakek tadi ternyata kakek kita yang belum kita kenal, karena waktu itu dia meninggalkan nenek dengan alasan mengadu nasib ke kota besar. Dia tak pulang selama berpuluh-puluh tahun karena nyasar. Tapi meski pun bertemu tetap tidak saling tau, kecuali mungkin ikatan darah dan batin merasakan hal beda. seperti pada saat bertatapan terjadi 'jeda'... sepertinya kenal... begitu proses batin, tapi ada batin yang menghela. wis.. bukan siapa-siapa.

2. Kakek tadi ternyata orang terkenal. Kakek Brad Pitt, Kakek Tom Cruise, Kakek Supermen dan kakek kakek terkenal lainnya. Pasti kita akan terkaget-kaget dong. Supraise! dan mungkin sontak langsung beranjak dari tempat duduk mencari buku tulis atau tukang foto kilat untuk minta tanda tangan separuh halaman lalu foto-foto dan minta lagi tandatangan... Sebuah harga yang wajar untuk 'korek api' yang hanya nyala sebentar lalu mati. tlek.
Dan dirumah kita menceritakan kepada keluarga, teman-teman juga kekasih tercinta tentang pengalaman di 2 jam setelah kereta lewat di stasiun jatinegara. atau stasiun manasaja suka-suka. Mereka yang mendengar kan berkomentar macam-macam, berekspresi ragam-ragam 'dorang pakita-kita...' ada yang lalu gegas menuju stasiun, sambil membawa kamera poket dan buku gambar berharap bisa bertemu kakek terkenal. Ada yang lalu memuja mengelus elus foto yang kita tunjukkan dengan bangga... dan kita merasa sesaat luar biasa. padahal dari moment yang sangat biasa saja. 'very day' :)

3. Kakek tadi adalah Kakek Slank, vokalis group Slank.
...

4. Kakek tadi ternyata Kakeknya Mertua. Tapi kita tidak kenal karena sudah wafat di tahun 1945. Tapi kok bisa ya... mungkin karena kecanggihan teknologi sehingga kakek mertua bisa ada lagi di stasiun 2 jam setelah kereta lewat. Maaf Kek, ini cucu menantu. TWEWEWEWEW!!! huehehehe malesss..) jadinya merinding, detak waktu stuck on jam dinding, ponsel berdering, cucian emak belum kering. Lalu lari ngibrit, keringat dingin, muka pucat disertai bibir membiru. Tapi bagi yang sudah biasa seperti Pak Leo Lumanto pasti santai saja. Malah ngobrol mungkinnya sambil canda tawa. Ya bisa saja...

5. Kakek tadi ternyata Kakeknya Hitler (?)

Hanya pengibaratan kecil tentang biasa yang sebenarnya punya potensi untuk tak biasa. Atau Ketika sang kakek tadi minta api, kita langsung teriak menangis di lututnya sambil memeluk teriak "Kakeeeeeeeeeeeeeeeekkk.... huhuhuhuhuhuuuuuuuu" si kakek pasti jadi bingung, dan orang disekitar juga jadi bingung. Emosi semua orang bisa berubah saat itu. dari biasa menjadi tak biasa juga.

2 jam setelah kereta lewat, semua tergantung dari bagaimana memaknai detik per detik waktu. kadang bersama lewatnya kereta, ada hal yang terlewatkan, dan 2 jam kemudian akan ada hal baru lagi lewat dan 2 jam lagi seperti itu seterusnya.

5-4-2007

No comments: