: Bapak
roti gambang kesukaan bapak kemarin dipesan oleh adik dari tukang roti langganan yang sudah tak lagi bisa melayani, digantikan anaknya karena dia sudah tak lagi bisa mengayuh pedal gerobaknya, dan karena sudah tak mampu lagi jasad menampung ruh yang memang sudah habis masa kontraknya. Inalillahi wa innailaihi rojiun. Begitu. kurang lebih dua bulan lalu. berita yang mengejutkan sebab kemarin hari masih melayani kami dengan senyumnya dan janggut khas rhoma irama serta topi cap yang kerap dipakainya. jikapun tak membeli roti, karena sudah telat lagi-lagi dia pasti menyapa, bunyikan klakson pencet karet "tot! tot! brangkat?!" dengan senyum tentunya.
dia mugkin tahu namaku, nama adik ibu atau pun bapakku, sebab bisa dibilang kami sudah 'berlangganan' roti padanya sejak akhir tahun 80'an. percaya gak percaya, tapi itu benar adanya kalo gak lupa kapan tepatnya, yang pasti sedari aku dan adikku lelaki masih SD. rotinya enak, rasanya khas, bukan roti import. sejenis roti klasik. nama produsennya LAUW. "ring a bell?" mungkin di jaman itu terkenal dan termasyhur karena saingan masih belum seperti sekarang ini yang gila, berjejalnya produk lokal dan interlokal (wartel kali?!), kalo gak salah pabrik/pusatnya di kota (jakarta pusat).. kalo gak salah lo.. apa yang dicipete itu?! tapi kalo boleh ngutip kesaksian dari tulisan di blog nagasundani* :
"Kalau di Ciputat, di rumah nyokap gue, roti yang paling enak tuh roti merek Lauw, rasanya ngga kalah dengan roti-roti bakery modern yang dijual dengan mobil. Namun penjual roti Lauw ini agak iseng orangnya, “cunihin” istilah sundanya. Roti Lauw tuh tradisional banget, masanya empuk tapi berbobot, rasa dan keharumnya tidak ada bandingnya. Selain keluarga gue suka membeli roti tawar, roti coklat, keju dan mokanya enak juga…."
(http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/jajanan-masa-kecil/)
Bisa terbaca bahwa roti lauw memiliki kesan tersendiri di hati pelanggannya. Gerobak sepeda dengan ala-ala singage kayu bergambar perempuan senyum dengan topi masak/walau agak mirip suster?! (harus di cek ulang). Kesan biru, mendominasi, bagian dari brand identity. Nah begitu tuh. dulu beberapa waktu lalu sempet menghilang sang penjaja roti lauw itu. gak pernah lewat depan rumah lagi, tanpa kabar dan sebab yang jelas.. terjadinya sekitar tahun 2000an. Bertepatan pada saat itu kami sekeluarga terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. bapak kerja, ibu mengurus rumah, adik dan saya sekolah dan jarang juga pulang ke rumah alias nginep di kos/rumah temen. begitu tuh trus lanjut ke masa kerja. ada di rumah malam, NAH!!! di saat itu muncul pedagang roti serupa, tapi dengan grobak dengan warna dominan hijau. singage bertuliskan Tan Ek Tjoan. Jreng!!!! dengan logat sunda kental dan berkelebat di antara magrib dan isya membunyikan klakson karetnya Tot! tot! rasanya juga enak, dan kerasa sekali roti ini bisa menggantikan rasa khas Lauw... maafkan... tapi berhubung lapar, apa boleh buat. harganya cukup bersaing, dan dengan abang-abang yang akhirnya akrab kami panggil dengan sebutan akang. menjadi langganan yang mengisi malam ba'da magrib dengan roti rasa baru serupa tapi tak sama dengan Lauw.
(bersambung... lg sibuk. harap maklum oom.. tante)
Tuesday, February 20, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment