Tuesday, February 13, 2007

Hujan Bicara

: Kepada langit

Hujan bicara nada kencang, riuh kata-katanya menerjang, tajam menusuk tusuk ku berdarah-darah. Gelegar petir tak biasa, semalam baru saja aku dan kekasihku berbincang tentang masalah cinta dan problemanya, birama 2/4 alias selaow saja. ada senyum muncul di mikrofon telepon dan bisikan kata-kata manis bak ciuman mesra. walau ada waktu dimana koneksi kita benar-benar terganggu efek cuaca. Contohnya; saat hujan banjir kemarin. Beberapa saat komunikasi terganggu, jika pun terhubungi jadinya pesan yang dikirim dan diterima tidak sinkron, kadang putus-putus atau tidak begitu jelas suaranya jadi terjadilah apa yang biasa disebut dengan 'miskomunikasi'.

Apa itu miskomunikasi?

Aku bertanya pada langit hari ini yang mengabu menabur benih di aspal jalan, berharap mencari cari tanah tempat matinya namun tanah sudah teramat jauh rimbanya. 'disana! di ujung kampung di kaki gunung.' ia diam saja seakan sudah tak lagi punya kata cuma suara desis dan helaan panjang yang menyertai kemarau. Apa itu miskomunikasi? tanyaku dalam hati, tapi hatiku tak bisa menjawab karena sedang sibuk mengurus gejolak asmaranya, berkutat dalam rindu yang tak biasa. oke lah, aku mengerti jika begitu kutanya pada hari, dengan harapan ia bisa punya jawaban yang cukup atas tanyaku ini. hari menjawab: 'hujan air dan basa di tanah basah, busa sabun dan air mancur, minyak dan satu sendok teh alkohol'. itu jawab hari, dan aku bingung. hey langit! coba bicara sedikit. ini perihal sebab lakumu jua kah?!

Seperti musa di puncak sinai, bicaranya langit tidak pada suara, tapi pada isyarat yang tampil lewat cahaya. sedikit sih. matari perlahan mulai membuka tirai yang menutupi wajahnya. bisa tersaksikan senyum senyum yang seakan menanda. ini jawabnya... "ini kah gerangan cinta, yang menghiasi kisah manusia aaa... aaaa... sepanjang masa. gairah pun dibuai terlena nikmati manis kata asmara aaa... aaaa..."(* begitu. aku berpikir dan berpikir menggemaskan batin, melemaskan otot-otot tangan kaki hinggap di kepala. bukankah dulu pernah, kudapati miskomunikasi sedang difoto-foto oleh beberapa fotografer dan paparazi? ketika itu langit cerah dan miskomunikasi berkacamata hitam di pinggiran pantai pangandaraan menggunakan kebaya asli buatan solo. halus bahannya bertabur manik sesuai motifnya. rambutnya gerai, halus pula melandai, jika semut di situ pasti tergelincir karenanya. pantulan ultraviolet tak menggoreskan, kecantikan dan pesonanya memancar. menjadi saat dimana Ismail Marzuki tak mau tidak mengabadikannya dalam rayuan pulau kelapa. itulah. baru ku ingat miskomunikasi ternyata adalah seperti itu adanya.

Hujan bicara nada kencang, riuh kata-katanya menerjang, tajam menusuk tusuk ku berdarah-darah. Gelegar petir tak biasa, semalam baru saja aku dan kekasihku berbincang tentang masalah cinta dan problemanya, birama 2/4 alias selaow saja. ada senyum muncul di mikrofon telepon dan bisikan kata-kata manis bak ciuman mesra. walau ada waktu dimana koneksi kita benar-benar terganggu efek cuaca. Contohnya; saat hujan banjir kemarin. Beberapa saat komunikasi terganggu, jika pun terhubungi jadinya pesan yang dikirim dan diterima tidak sinkron, kadang putus-putus atau tidak begitu jelas suaranya jadi terjadilah apa yang biasa disebut dengan 'miskomunikasi'.

No comments: